[Bagian 4] Arti Sebuah Keteguhan Iman
---------- Forwarded message ----------
From: La Adri <tilmidzi@yahoo.com>
Date: Jan 2, 2006 12:51 PM
Subject: [manhaj-salaf] [Bagian 4] Arti Sebuah Keteguhan Iman
To: manhaj-salaf@yahoogroups.com
From: La Adri <tilmidzi@yahoo.com>
Date: Jan 2, 2006 12:51 PM
Subject: [manhaj-salaf] [Bagian 4] Arti Sebuah Keteguhan Iman
To: manhaj-salaf@yahoogroups.com
| |
[Bagian 4]
Ketiga: Memperhatikan kisah-kisah para nabi dan mempelajarinya untuk dijadikan teladan dalam perbuatan .
Landasan hal tersebut adalah firman Allah ta'ala :
"Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman " (Huud : 120) Ayat-ayat tersebut diturunkan pada zaman Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bukan untuk main-main dan senda gurau, akan tetapi untuk sebuah tujuan agung yaitu memantapkan hati Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam dan orang-orang beriman yang bersamanya.
Jika engkau perhatikan -wahai saudaraku- Firman Allah Ta'ala:
"Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka kami menjadikan mereka itu orang-orang yang merugi " (Al-Anbiya : 68-70)
Ibnu Abbas berkata: "Ucapan Ibrahim yang terakhir tatkala dilempar ke dalam api adalah :
Tatkala anda memperhatikan kisah ini, bukankah akan anda rasakan adanya nilai-nilai keteguhan -ketika berhadapan dengan thaghut dan penyiksaan- yang meresap ke dalam jiwa anda.. ?
Seandainya anda merenungi kisah nabi Musa alaihis salam yang terdapat dalam firman Allah ta'ala :
" Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sesungguhnya Tuhanku besertaku kelak dia akan memberikan petunjuk kepadaku" (Asy Syuara : 61-62)
Bukankah -saat memperhatikan kisah ini- anda akan merasakan nilai lain dari keteguhan saat menghadapi orang-orang zholim, dan keteguhan pada saat-saat yang sangat kritis sementara disekelilingnya terdengar teriakan keputus asa'an.
Begitu juga jika anda mengamati kisah para penyihir Firaun, anda akan menyaksikan sebuah contoh yang sangat menarik tentang sekelompok orang yang teguh dengan kebenaran yang telah jelas baginya.
Anda akan menyaksikan pelajaran yang sangat berharga tentang sebuah keteguhan yang kokoh dalam jiwa saat menghadapi intimidasi orang zholim yang berkata:
"Berkata Fira'un: "Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara timbal balik dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa diantara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksaannya" (Thaahaa : 71)
Perhatikanlah keteguhan sekelompok kecil kaum beriman yang tidak gentar sedikitpun saat mereka berkata:
"Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mu'jizat) yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja" (Thaahaa : 72) Demikian juga halnya dengan kisah orang-orang beriman pada surat Yasiin dan seorang mu'min pada keluarga Firaun serta Ashhabul Ukhdud (orang-orang yang dibakar di parit karena beriman kepada Allah) dan yang lainnya, dimana keteguhan merupakan pelajaran yang paling berharga di dalamnya.
to be continued....insya Allah
Kiat Berpegang Teguh DENGAN AGAMA ALLAH
Muhammad Shalih Al Munajjid
MENEBAR ILMU & TEGAKKAN SUNNAH
|
Umar bin Abdul Aziz berkata :
"Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu (Salafus Shalih) itu berhenti di atas dasar ilmu dengan bashirah yang tajam (menembus) mereka, menahan (dirinya), dan mereka lebih mampu dalam membahas sesuatu jika mereka ingin membahasnya." (Bayan Fadlli Ilmis Salaf 38) |
0 Comments:
Post a Comment
<< Home