MERENCANAKAN DAN MENIKMATI SUKSES SEKARANG
Siapapun anda, mulai saat ini anda bisa tergolong orang sukses bila anda benar-benar merencanakan dan bervisi sukses serta berperilaku sebagai orang sukses. Ciri utama perilaku orang sukses adalah dia menikmati hidupnya – betapapun keadaan dirinya- dan melakukan perbaikan diri secara berkelanjutan, sehingga selalu hari ini-nya lebih baik dari kemarin. Dan dia merancang hari esoknya lebih baik dari hari ini.
Orang-orang yang tidak berhasil dan tidak berusaha berhasil adalah orang yang sudah mempersepsikan dirinya berada pada tingkat atau kelas tertentu dari kasta kehidupan. Dia sudah memastikan kasta kehidupannya sendiri sehingga, dia sulit dan enggan untuk naik kasta dan memperbaiki nasibnya. Dia tidak bisa bergerak maju karena dihalangi pembatasan persepsi dan perasaannya. Dia membatasi kemampuan dan kesuksesannya sebatas yang dia pikirkan dan gambarkan. Dia tidak melihat kemampuannya –yang luar biasa- seperti apa adanya yang dikaruniakan Allah kepada dirinya.
Padahal Allah berfirman, artinya: "Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu mengubah nasib dirinya sendiri."
Orang-orang yang mencapai keberhasilan luar biasa, –konon menurut sebuah penelitian- barulah menggunakan kurang lebih 5% dari kemampuan otak yang diberikan Allah kepada dirinya. Berarti betapa nganggurnya kebanyakan otak manusia.
Kita bisa melihat kasus soal tradisi membaca. Kita melihat fenomena rendahnya tingkat baca umat Islam di seluruh dunia. Padahal orang yang tidak membaca adalah tidak lebih baik daripada orang yang buta huruf. Standar baca buku adalah satu buku satu minggu. Tapi kenyataannya, jangankan masyarakat umum, para mahasiswa saja belum tentu memenuhi standar satu minggu satu buku.
Ironis memang, tapi itulah kenyataan, dan sekaligus contoh riel dari pengangguran otak besar-besaran. Karena salah satu rangsangan untuk menggunakan otak adalah dengan membaca. Kalau begitu, ini artinya setiap manusia memiliki harta karun yang jarang ia sentuh dan manfaatkan. Harta karun itu (baca: kemampuan, kecerdasan) adalah salah satu nikmat dari Allah yang kelak akan dipertanyakan pertanggungjawabannya. Sebab semua nikmat akan ditanyakan kepada kita.
"Kemudian pada hari itu, kamu pasti ditanya tentang kenikmatan (yang kamu terima)." (QS. At-Takatsur: 8).
Bagaimana kita menjawabnya? Kita diberi modal oleh Allah dengan berbagai nikmat ini adalah untuk diberdayakan, dimanfaatkan dan dikembangkan, bukan untuk dianggurkan, dicuekin dan ditelantarkan. Sudah belasan tahun modal berbagai kenikmatan itu kita acuhkan, tidak kita pedulikan, bagaimana memulai hidup yang baru, hidup sukses, produktif dan penuh tanggung jawab?
Insya Allah buku 10 Kebiasaan Muslim Yang Sukses dapat kita jadikan panduan memulai hidup baru yang penuh d
Kesuksesan Sejati; Kesuksesan Dunia-Akhirat. Pertama kali, kita harus melihat bahwa kita memiliki berlapis-lapis potensi. Kita harus membangun kepercayaan diri bahwa sebagaimana orang lain bisa mencapai puncak kesuksesan, kita pun bisa mencapai ke sana.
Sebetulnya, di sinilah starting point kita untuk bisa sukses. Inilah yang dalam istilah DR. Ibrahim Al-Qu'ayyid, penulis buku 10 Kebiasaan sebagai
"Kebiasaan Semangat Mencapai Puncak Prestasi".
Dan benar, beliau meletakkannya sebagai kebiasaan pertama yang harus dimiliki seorang yang berjiwa sukses (hal. 11). Kita tidak akan pernah beranjak dari kasta dan tidak akan pernah naik kelas dalam kehidupan ini, bila kita berfikir ke belakang. "Saya hanyalah anak seorang petani, saya hanyalah anak yang terbatas otaknya, saya cukup begini saja", dst. Untuk melakukan perubahan mendasar atau revolusi, kita harus mengubah paradigma, cara pandang, persepsi dan asumsi kita tentang diri kita sendiri, juga tentang dunia ini. Bila paradigma terhadap diri kita adalah sebagai individu yang sukses, maka perilaku, tindakan dan pola pikir kita akan tumbuh berdasarkan paradigma dan asumsi tersebut. Demikian pun sebaliknya. Di sinilah perubahan itu akan berarti, perubahan dari akarnya, bukan perubahan di permukaan atau level daun-daunnya saja.
Dalam istilah agama, untuk mengubah kegagalan menuju sukses kehidupan Akhirat, kita terlebih dahulu harus mengubah manhaj (jalan, metode pemahaman) kita. Yaitu menuju manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah atau manhaj Salafunash Shalih. Karena manhaj inilah yang direkomendasikan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan mengubah manhaj, berbagai perubahan kita dalam beragama akan bersifat mendasar dan substansial, bukan angin-ang
Bila kita sudah mengubah paradigma kita, yaitu keyak
Tugas besar kita dalam perubahan paradigma untuk mencapai puncak prestasi adalah dengan secara konsisten meningkatkan tiga hal sekaligus; kualitas iman, kualitas kerja (kuliah), kualitas hubungan sosial (hal. 12). Sebagai kompas dan penunjuk arah dalam merealisasikan paradigma yang baru tersebut kita harus menuangkannya dalam bentuk misi hidup, sesuai dengan peran kita masing-masing. Dan misi itu ditulis dengan bertolak dari segi tiga hal di atas (iman, pekerjaan, relasi). Karena segi tiga itulah yang menjadi poros kehidupan kita di dunia ini. Misi hidup itu lahir berawal dari fantasi dan mimpi besar yang disebut visi.
Misi merupakan penerjemahan visi, fantasi dan mimpi besar kita. Visi adalah perasaan bahwa kita ditantang oleh dunia untuk membuat jejak langkah kita di sana, melalui kekuatan ide, kepribadian, sumber diri dan keing
Kita sebenarnya tumbuh bersama mimpi-mimpi. Beberapa dari kita membiarkan mimpi-mimpi itu mati. Tapi yang lain tetap memelihara, menjaga serta merawatnya dalam hari-hari yang suram, sampai matahari dan s
Visi kerasulan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah mengeluarkan umat manusia dari kesesatan kepada kebenaran dan petunjuk. Maka visi itu beliau implementasikan dalam bentuk misi dakwah. Beliau terus menjaga visi-misinya dalam suka duka dakwah, sehingga beliau berhasil melahirkan generasi manusia terbaik sepanjang masa dalam kurun waktu hanya 23 tahun.
Thomas Edison mencanangkan tujuan ambisius (visi) untuk mendapatkan penemuan besar yang baru setiap enam bulan, dan penemuan kecil setiap 10 hari. Ketika meninggal –karena dia menjaga dan konsisten dengan visi misinya- dia memiliki 1.092 lisensi untuk hak paten Amerika Serikat dan 2000 lisensi hak paten dari luar negeri.
Kebiasaan kedua adalah Menentukan Tujuan (hal. 21).
Jenis tujuan juga masih berporos pada tiga hal di atas (iman, pekerjaan, relasi). Tapi untuk lebih spesifik, penulis menyebutnya dengan tujuan ilahiyah, kemasyarakatan dan tujuan pribadi (hal. 24). Ketiga jenis tujuan tersebut harus saling berkaitan, meskipun di lapangan, kadang terjadi benturan, khususnya tujuan-tujuan yang bersifat kemasyarakatan.
Sebagai seorang muslim, tujuan kita di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah. Maka kita pun merumuskan tujuan-tujuan yang berkaitan dengan hak-hak Allah, lalu hak-hak hamba (hub. Sosial), dan hak-hak pribadi (hal. 30). Kita bisa merumuskan tujuan-tujuan tersebut berdasarkan delapan tahap tujuan:
1) Yang berkaitan dengan hak-hak Allah.
2) Keluarga.
3) Pekerjaan.
4) Hubungan pribadi.
5) Bersifat hiburan.
6) Pengembangan diri.
7) Bersifat materi.
8) Kedudukan sosial (hal. 37).
Tujuan-tujuan itu harus memenuhi lima kriteria;
1) Jelas dan tertentu.
2) Bisa diukur.
3) Bisa dikerjakan.
4) Ada motivasi.
5) Tanggal pelaksanaannya ditentukan (hal.44).
Kebiasaan ketiga adalah Menentukan Skala Prioritas (hal. 51).
Dalam hal ini Stephen Covey dalam The 7 Habits-nya mengutip kata-kata yang bagus,
"Orang sukses mempunyai kebiasaan mengerjakan hal-hal yang tidak suka dikerjakan oleh orang gagal. Mereka belum tentu suka mengerjakannya. Namun ketidaksukaan mereka, tunduk pada kekuatan tujuan mereka."
Ini artinya, diperlukan komitmen tinggi dan keberanian mengatakan "tidak" jika memang hal itu berseberangan dengan prioritas. Sebab memang pekerjaan itu ada enam kuadran.
1). Sangat penting dan mendesak seperti ibadah yang masuk waktu dan membawa anak ke rumah sakit.
2) Sangat penting dan tidak mendesak, seperti olah raga, silaturahim.
3) Penting dan mendesak, seperti mengantar anak sekolah, menerima tamu.
4) Penting dan tidak mendesak, seperti membaca, mengikuti pelatihan.
5) Tidak penting tapi mendesak, seperti lihat acara TV.
6) Tidak penting dan tidak mendesak, lama-lama baca koran (hal. 52-54).
Yang sangat berguna dalam kebiasaan ketiga ini adalah Teori Pareto. Yaitu yang mengajarkan bahwa kita termasuk produktif hingga 80% jika kita merealisasikan 20% dari tujuan-tujuan yang kita tetapkan. Artinya, ia menfokuskan pada tujuan-tujuan besar, tujuan-tujuan prioritas. Dan di lapangan kenyataannya memang demikian (hal.59).
Kebiasaan keempat, Perencanaan yang Efektif (hal. 63).
Pernah diadakan survey untuk mengetahui profesional yang paling sukses. Ternyata dari 100 profesional sukses yang diteliti di Amerika, yang paling sukses di antara mereka adalah yang memulai harinya di kantor dengan menulis daftar kerja (baca: perencanaan) yang harus ia realisasikan hari itu. Lalu ia berusaha untuk menyelesaikannya. Satu dari mereka berusaha maksimal untuk tidak meninggalkan kantor sebelum menuntaskan daftar kerjanya hari itu (hal. 69).
Segala sesuatu diciptakan dua kali. Demikian kata Stephen C. Yang pertama adalah ciptaan mental, dan yang kedua adalah ciptaan fisik. Persis seperti rumah yang sebelum dibangun kita membuat design dan arsitektur-nya, baru kemudian kita merealisasikan rumah itu dalam kenyataan fisik sesuai gambarnya. Atau dalam bahasa kedokteran, diagnosis dulu sebelum membuat resep.
Artinya, kita bisa merencanakan sukses atau gagal, tergantung bagaimana kita menciptakan suatu pekerjaan itu dalam rencana kita. Dan kita harus memiliki rencana baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Dalam bahasa Tujuh Kebiasaan Stephen C. "Merujuk pada tujuan akhir". Stephen mengajak agar kita menvisualisasikan kita sudah mati. Lalu apa yang dikatakan oleh orang-orang tentang kita? Apa prestasi, kontribusi yang anda ingin agar mereka ingat? Apa kata-kata perpisahan yang anda ingin diucapkan anak, isteri, paman dan kolega anda?
Berangkatlah dari sini saat membuat perencanaan. Sejauh mana kita melihat tujuan akhir seringkali menentukan apakah kita mampu atau tidak menciptakan sebuah perusahaan/bisnis yang berhasil. Kebanyakan kegagalan bisnis diawali dengan dari ciptaan pertamanya, dengan masalah-masalah seperti kurangnya modal, kesalahpahaman tentang pasar, atau tidak adanya rencana bisnis.
Kebiasaan kelima, Fokus (hal. 79).
Artinya, serius terhadap suatu pekerjaan yang sudah ditetapkan, tidak berpaling ke hal-hal yang lain. Untuk itu diperlukan kemauan besar sehingga mampu menundukkan keing
Kalau kita umat Islam, tidak perlu meditasi. Shalat lima kali itu saja tegakkan yang sekhusyu'-khusyu'nya sehingga kita terlatih fokus. Fokus juga akan menghilangkan sikap menunda-nunda pekerjaan yang sering menjadi penghambat utama keberhasilan sebuah pekerjaan.
Penyakit terbesar sebuah pekerjaan adalah terbengkalai di tengah jalan (medak, Jawa), karena dianggap tidak menarik, malas atau ada yang lebih memikat. Dalam Islam ada istilah "pekerjaan itu dinilai pada pamungkasnya". Batal wudhunya kalau tanpa mencuci kaki. Batal shalatnya kalau lari sebelum salam. Tidak dikategorikan lulus sarjana, kalau dia belum merampungkan dan lulus ujian skripsinya, tidak jadi sebuah buku kalau bab terakhirnya tak digarap, tidak bisa dimakan kalau nasi masih setengah masak dsb. Salah satu penawar terbesar penyakit "medak" adalah fokus pada pekerjaan.
Kebiasaan keenam, Keahlian Berkomunikasi (hal. 93).
Komunikasi adalah ketrampilan yang sangat penting dalam hidup, karena komunikasi adalah jantung hubungan sosial dengan masyarakat. Prof. Thomas Harrel (1986) pernah melakukan penelitian selama 20 tahun tentang hubungan kesuksesan kerja dengan proses komunikasi dalam kehidupan manusia. Penelitian ini menemukan bahwa faktor terpenting ukuran keberhasilan adalah sikap terbuka dan senang bermasyarakat.
Disebutkan hanya 15% saja keberhasilan seseorang yang bergantung pada keahlian teknis, sedang 85% bergantung pada keahlian berkomunikasi (hal. 95). Keahlian berkomunikasi menjadikan kita bisa mempengaruhi orang lain secara positif, menjadikan mereka puas dengan pendapat kita dan menjadikan mereka mau membantu dan bekerjasama dengan kita.
Menurut Stephen, justru kunci komunikasi adalah pada kemampuan kita untuk mendengar secara empatik, bukan banyak dan mendom
Mendengar empatik, teknisnya kita mendengar dengan telinga, mata dan hati kita. Memperhatikan perasaan, makna, perilaku, memahami, berintuisi dan merasa. Dengan demikian akan memberikan kita data yang akurat untuk dikerjakan. Komunikasi kita banyak dipengaruhi oleh tiga faktor:
1) Muatan komunikasi. Yaitu misi yang ingin kita sampaikan kepada orang lain (pemikiran, perasaan, permohonan, pemahaman dsb).
2) Kondisi saat komunikasi berlangsung (kejiwaan lawan bicara, waktu, tempat, situasi).
3) Metode penyampaian komunikasi (hal. 97).
Biasanya, yang sangat berpengaruh adalah faktor kedua, terutama kondisi kejiwaan. Berkomunikasilah dengan menempatkan diri kita pada posisi orang yang kita ajak bicara. Benar-benar memahami posisi orang tersebut, kekhawatiran-kekhawatirannya, harapan-harapannya, dan dari sanalah kita bisa masuk dan mempengaruhinya secara tulus.
Bayangkanlah kita saat ini sedang berkomunikasi dengan teman kita dalam persoalan yang pelik. Bisakah kita menerapkan prinsip-prinsip komunikasi yang benar? Juga bila kita berkomunikasi dengan anak kita yang "nakal". Semakin pandai kita menempatkan diri dalam komunikasi dan bisa menyelesaikan persoalan-persoalan komunikasi, berarti kita telah menyelesaikan lebih dari separuh persoalan hidup kita. Karena hidup kita lebih banyak adalah kesalingtergantungan dengan orang lain.
Kebiasaan ketujuh, Mengalahkan Diri Sendiri (hal.103).
Artinya, menundukkan diri, mengarahkan dan membiasakannya menghadapi tanggung jawab dan mengontrolnya serta bersabar atas berbagai beban hidup. Beberapa faktor yang membuat kita gagal mengalahkan diri sendiri adalah; siasat selalu membela diri sendiri dan menyalahkan orang lain, lemah, malas, tidak rapi, menunda-nunda, merasa gagal dsb. Barangkali inilah yang dalam bahasa Stephen diistilahkan "proaktif".
Artinya, sebagai manusia, kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Perilaku kita adalah fungsi dari keputusan kita, bukan kondisi kita. Kita dapat menomorduakan perasaan sesudah nilai. Kita punya inisiatif dan tanggung jawab untuk membuat segala sesuatunya terjadi. Kita tidak menyalahkan keadaan, kondisi atau orang lain. Karena itu masalahnya bukan apa yang terjadi pada kita, melainkan respon kita terhadap apa yang terjadi pada diri kitalah yang menyakiti kita.
Sehingga Eleanor Roosevelt berkata, "Tak seorang pun dapat menyakiti anda tanpa persetujuan anda." Kita perlu menghadapi hidup ini dengan cinta. Kita harus membuat cinta sebagai kata kerja, bukan kata benda, bukan perasaan. Cinta adalah sesuatu yang kita lakukan; pengorbanan kita, pemberian kita, seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya ke dunia. Dan itulah yang akan mengalahkan egoisme kita, bahkan hawa nafsu kita.
Kebiasaan kedelapan, Manajemen Waktu (hal. 115).
Artinya, proses pemanfaatan waktu yang tersedia dalam hidup kita, juga potensi pribadi kita untuk mewujudkan tujuan-tujuan penting yang kita upayakan, dengan tetap menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan kehidupan pribadi, juga keseimbangan jasmani, ruhani dan akal.
Pertama, waktu yang sulit diatur yaitu waktu yang kita gunakan khusus untuk itu, tidak bisa yang lain. Seperti waktu tidur, makan, istirahat dsb.
Kedua, waktu yang bisa diatur, seperti saat kerja, waktu dalam sebagian kehidupan pribadi kita.
Pada jenis yang kedua inilah terutama pertanyaan ditujukan, apakah kita telah manfaatkan waktu tersebut dengan baik? Untuk itu kita harus tahu kapan waktu prima kita sepanjang siang dan malam. Kerjakanlah pada saat itu pekerjaan-pekerjaan besar dan berat. Berikutnya, kita harus bisa menghitung berapa waktu kita yang terbuang percuma. Sehingga bisa kita gunakan untuk hal produktif. Dengan kemampuan kita, kita juga bisa memperpendek waktu jenis pertama untuk ditambahkan pada waktu jenis kedua. Lalu misalnya, ada dua jam waktu yang bisa dimanfaatkan, fikirkanlah untuk apa waktu itu kita gunakan? (hal. 116-117).
Kebiasaan kesembilan, Berfikir Positif (hal. 131).
Di antara definsinya adalah cara pandang yang baik terhadap setiap masalah, orang dan peristiwa. Berfikir positif menjadikan seseorang selalu konstruktif dan produktif. Ia akan melihat dunia dengan terang benderang, karena ia menggunakan kaca mata yang positif, bukan negatif.
Seorang yang berfikir positif senantiasa tawakal kepada Allah, selalu optimis dengan kebaikan, menyikapi hidup dengan suka cita, melihat sisi kelebihan orang lain bukan kekurangannya, selalu menggunakan ungkapan-ungkapan lembut, berfikir menang-menang dan memiliki akhlak terpuji.
Kebiasaan kesepuluh, Mewujudkan Keseimbangan (hal. 141).
Seimbang artinya pandangan pertengahan antara berbagai hal. Pertengahan antara ujung yang saling bertentangan. Menjauhi sisi yang berlebihan, semangat membabi buta, kaku dan keras. Juga menjauhi sisi lain yang meremehkan, plin plan, tidak berpendirian dan mengabaikan setiap persoalan. Keseimbangan antara jasmani, ruhani dan akal. Kita seimbangkan antara ibadah, kerja dan kehidupan pribadi sesuai dengan porsinya masing-masing, dari sisi urgensi, usaha dan waktunya. Kita seimbangkan antara maslahat pribadi dengan maslahat umum.
Stephen Covey menawarkan bentuk keseimbangan yang lebih d
Fisik dengan olah raga, nutrisi dan manajemen stres. Dengan memenuhi kebutuhan fisik, kita akan merasakan aktivitas normal kita jauh lebih nyaman dan menyenangkan.
Kedua, dimensi spiritual. Yaitu sebuah dimensi untuk mempertahankan ketenangan dan kedamaian jiwa, misalnya dengan ibadah, berdoa, i'tikaf, (meditasi bagi nonmuslim), komitmen pada nilai dan ajaran agama.
Ketiga, dimensi mental, sebagian besar perkembangan mental dan disiplin studi kita berasal dari pendidikan formal. Karena itu, begitu lulus sekolah, kita membiarkan mental kita berhenti pertumbuhannya. Kita tidak membaca secara serius, tidak berfikir analitis, tidak menulis, sebaliknya dihabiskan waktu untuk nonton TV. Membaca adalah cara terbaik untuk menjaga keseimbangan mental, sehingga meluaskan pikiran kita dengan ide-ide brilian yang ada pada literatur yang kita baca. Tiga dimensi pertama ini –fisik, spiritual, mental- adalah praktik yang disebut Stephen sebagai kemenangan pribadi sehari-hari. Dan kita diminta untuk menggunakan satu jam sehari untuk melakukannya, demi menjaga keseimbangan ketiganya.
Keempat, dimensi sosial/emosional. Yaitu dalam bentuk pelayanan, empati, sinergi dan rasa aman intrinsik. DR. Hans Selye dalam penelitiannya tentang stres mengatakan, pada dasarnya kehidupan yang panjang, sehat dan bahagia adalah hasil dari memberikan kontribusi, memiliki proyek berarti yang menyenangkan secara pribadi dan menyokong serta memberkahi kehidupan orang lain. Dalam ungkapan G. Bernard Shaw, "Saya ingin terpakai secara tuntas ketika saya mati." N. Eldon Tanner mengatakan, "Pelayanan adalah sewa yang kita bayar untuk hak istimewa hidup di atas bumi ini."
Agama kita yang sempurna mengajarkan,
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya kepada sesama."
Pesan utama buku ini adalah; Di dunia ini seorang muslim harus prestatif di segala bidang. Di pekerjaan, di keluarga, di masyarakat, di bidang ekonomi, pendidikan, sosial, ilmu pengetahuan, budaya dsb. Dan kita harus memulainya dengan mengubah kebiasaan kita menjadi kebiasaan-kebiasaan yang positif-produktif dengan mengacu pada 10 langkah yang ia tawarkan. Pesan substantif buku ini –dan hal ini yang membedakannya dengan buku-buku pengembangan diri lainnya- adalah ke mana kesuksesan itu diorientasikan.
Buku-buku pengembangan diri lainnya, jarang sekali menyinggung masalah ini. Buku-buku tersebut mengajarkan kita bagaimana bisa sukses. Dan kesuksesan itu adalah untuk kesuksesan itu sendiri. Untuk dinikmati, untuk status sosial, untuk dijadikan contoh bagi orang lain, serta untuk berbagai bentuk kepuasan duniawi lainnya.
Berbeda dengan Dr. Ibrahim bin Hamd Al-Quayyid, penulis buku ini. Beliau justeru sangat menekankan orientasi kesuksesan ini. Kesuksesan bukanlah sekedar untuk masa depan 20-30 tahun yang akan datang, atau untuk dinikmati sebelum datangnya kematian. Tidak, itu memang masa depan, tetapi masa depan jangka pendek (baca: bersifat duniawi) yang pasti berakhir.
Masa depan yang diorientasikan DR. Ibrahim adalah masa depan yang tiada akhir, yaitu masa depan Akhirat. Buku 10 Kebiasaan Muslim Yang Sukses ini mengajak kita sukses dunia Akhirat. Sukses yang sudah bisa kita nikmati sejak sekarang. Oh iya, Anda mau bergabung? Praktikkan resep-resep buku ini sekarang!
---------------------------------------------------
* Makalah ini disampaikan dalam acara Bedah Buku 10 Kebiasaan Muslim Yang Sukses, LPU Al-Kahfi Yogyakarta, Ahad, 25 Sya'ban 1425H/ 10 Oktober 2004 M.
0 Comments:
Post a Comment
<< Home